Sabtu, 11 Juni 2011, 18.00 WITA 2011

Ada apa dengan The Rocky Mountains Colorado? Kenapa tiga manusia Bali yang menuntut ilmu di lerengnya, ilmu sangat sekuler tentang Bisnis Kapitalis dan Sains, kini bukan saja tertarik perihal spiritualitas tetapi malah berkapasitas sebagai “guru.”  Adakah ini kebetulan semata?

Di awal tahun 1990, ketiganya bertemu menjelang akhir  studi.  Made Sadguna  mengambil program MBA di Denver University (DU) dikirim kantornya, Bank Indonesia. Arief Wijaya, atas biaya keluarga, menempuh S1 Marketing di DU.  Sementara Panji Tisna, mengambil S1 Biology di Colorado College (CC) Colorado Springs dengan beasiswa. Lulus dari universitas masing-masing, Sadguna karirnya melesat pesat, hingga dikirim menyelesaikan Ph.D. di Perth, Australia. Arief Wijaya kembali ke Bali, menjalankan usaha Garment dan Hotel keluarganya. Panji sendiri sempat berlayar keliling Indonesia, melakukan pelbagai hal seputar Biologi Tanaman dan kebudayaan, dan kemudian meraih beasiswa S2 di Australia.

Tahun 2005, Arief berkabar bahwa dirinya ke Myanmar, memenuhi panggilan batin jadi Bhiksu Buddha.  Sungguh tak terbayangkan, menjadi Bhiksu peminta-minta? Bukankah selama ini ia biasa hidup dalam kemewahan? Sementara itu, dua tahun belakangan, Panji berproses intens dengan The Art of Living Foundation, menjadi salah satu instruktur program wellbeing yang mengajarkan yoga asana, pranayama, Sudarshan kriya dan meditasi. Demikian pula Made Sadguna, walau menjabat Deputy Director BI Denpasar, Bali, namun kerinduannya akan dunia spiritual tak terbendung lagi. Bahkan kini dirinya sudah mewinten (ditahbis) untuk melakukan pengabdian dharma.

The Rocky Mountains Colorado, sebagaimana pegunungan lain, diyakini memiliki aura, energi kejernihan sepadan dengan elevasinya. Banyak komunitas Buddhist, kelompok Yoga dan pecinta Bali di wilayah tersebut. Tidakkah pertemuan ketiganya dengan tempat ini menjadi penyemai benih-benih kesadaran dan pencerahan yang sejatinya telah tumbuh di dalam diri mereka masing-masing? Ataukah sistem pendidikan setempat turut mempengaruhi sikap kritis mereka pada apa yang disebut dengan Pengetahuan? Benarkah pendidikan yang canggih nan sekuler, bila dihadapkan pada konflik personal internal, memiliki kelemahan yang fundamental: tak menawarkan aspek pengolahan diri dan pengelolaan pikiran?

Sambil menjawab pertanyaan di atas, ketiganya akan berbagi pengalaman perihal pencapaian akademis, jalan hidup dan laku spiritualitas. Mereka juga akan memperbincangkan perihal pendidikan yang mencerahkan, di mana kearifan Timur atau non-Barat (Bali dan daerah lain di Nusantara, India, China, Tibet, dsb.) memilki kelebihan yang mungkin diintegrasikan dengan kecanggihan ilmu Barat.