Sabtu, 23 November 2013, Pukul 18.30 Wita – selesai

Bali Tempo Doeloe #5_Gamelan Bali2 (1)Colin McPhee merupakan komposer barat pertama yang melakukan studi etnomusikal tentang gamelan Bali. Musisi kelahiran Kanada, 15 Maret 1900 ini menciptakan beberapa nomor musikal yang berangkat dari khazanah kebudayaan Bali, di antaranya Taboeh-taboehan (1936) dan Symphony No.2 (1957).

Kedatangannya ke Bali terpicu oleh keterpukauannya terhadap komposisi ansambel gamelan pada salah satu rekaman pada tahun 1931. Sebuah publikasi di UCLA (University of California-Los Angeles) menyebutkan bahwa ia melakukan riset intensif mengenai ragam ansambel gamelan di beberapa daerah Bali, dan menjadikan rumahnya sebagai pusat studi musikal, suatu ruang edukasi bagi anak-anak setempat guna mempelajari gamelan dan tari. Bersama istrinya, Jane Belo, mahasiswi antropologi Margared Mead, ia menelusuri kemungkinan penciptaan musik baru, yang kemudian menjadi salah satu cikal bakal world music yang berkembang belakangan ini.

Selain mencipta komposisi musik, ia juga menerbitkan buku mengenai Bali antara lain Music in Bali (1966), dan House of Bali (1946) sebuah kisah mengenai pengalaman residensinya di pulau ini. Sejak tahun 1958, ia menjadi profesor dalam bidang etnomusikologi di UCLA.

BBB kali ini mengetengahkan beberapa karya terpilih dari Colin McPhee yang merespon ragam gamelan Bali, di antaranya seri Taboeh-taboehan yang terdiri dari 3 komposisi, yakni Pamoengkah, Gambangan, Taboeh Telu, serta komposisinya yang digubah dalam berbagai orkestra, Nocturne.

Seni gamelan Bali telah berkembang pesat, bahkan mulai dikreasikan dalam langgam modern. Gamelan Bali umumnya menggunakan laras tradisi pelog ataupun slendro, dan ditampilkan pada saat ritual-ritual upacara maupun sebagai pengiring tari. Beberapa ruang budaya lokal di lingkungan komunitas adat secara berkelanjutan menggelar latihan ansambel gamelan dengan melibatkan generasi muda—barangkali adalah salah satu ragam seni tradisi yang masih mendapat tempat dalam arus percepatan perubahan di pulau ini.

Meskipun demikian, bukan berarti pula bahwa seni ini tidak berada dalam tantangan. Terkecuali mereka yang telah lama bergiat dalam ansambel, kian sedikit kalangan yang memahami jenis-jenis gamelan Bali, termasuk perangkat yang dipergunakan serta perbedaan fungsinya, seperti jiyeng, reyong, gender, gangsa, dan lain sebagainya. Sama halnya dengan langgam musik gamelan macam apa yang dihadirkan saat upacara tertentu, mungkin hanya terbatas yang tahu. Dengan kata lain, gamelan membutuhkan pelestarian yang lebih komprehensif, bukan hanya melalui pengenalan alat musik, namun juga ragam komposisi musikal serta makna-makna filosofis yang terkandung di dalamnya.