Jumat, 6 Desember 2013, Pukul 18.30 Wita – selesai

 

Sandyakala #36-Samar Gantang 2I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, lahir di Tabanan, Bali, 27 September 1949. Sastrawan yang mantan guru ini, tak hanya menulis puisi, tapi juga cerpen, novel, serta membina sanggar teater. Puisi-puisi I Gusti Putu Bawa Samar Gantang banyak dimuat pada beberapa harian dan majalah, seperti Warta Minggu, Santana, Simponi, Swadesi, Swara Karya, Sinar Harapan, Media Indonesia, Merdeka Minggu, Canang Sari, Buratwangi, Bali Aga, dll. Karya-karyanya yang sudah dibukukan, antara lain yang diterbitkan Lesiba (Lembaga Seniman Indinesia Bali): Hujan Tengah Malam (1974), Kisah Sebuah Kota Pelangi (1976), Kabut Abadi (1979) bersama Diah Hadaning. Antologi Puisi Pendapa Taman Siswa Sebuah Episode (1982) diterbitkan Taman Siswa Yogyakarta. Antologi Puisi ASEAN (1983) diterbitkan Sanggar Semi, Denpasar, Taksu (1991) diterbitkan Sanggar Minum Kopi, Denpasar. Antologi Potret Pariwisata Dalam Puisi (1991) diterbitkan Yayasan Komindo Jakarta. Antologi Puisi Kebangkitan Nusantara I (1994) diterbitkan HP3N Batu, Malang. Perani Kanti (2002), Onyah (2002), Sagung Wah (2002) diterbitkan Majalah Canang Sari, Gianyar. Kumpulan Esai Bali Sane Bali (2002) diterbitkan Balai Bahasa Denpasar. Puisi Modre Samar Gantang (2003) diterbitkan Majalah Canang Sari, Gianyar. Kumpulan Cerpen Macan Raden (2003), Kumpulan Cerpen Sipta Durmanggala (2004), Kumpulan Cerpen Awengi Ring Hotel Central (2004), antologi Puisi dan Cerpen Kesaksian Tiga Kutub (2004), kumpulan Puisi Kidung Dewata Dalam Berkah Gusti (2004), novel Leak Satak Dukuh (2007, antologi Puisi What’s Poetry? (2012) Forum Penyair Internasional Indonesia (FPII), diterbitkan Henk Publica, dll.

Penyair ini paling populer dengan puisi Modre “Leak Lanang Leak Wadon Leak Kedi”. Di Tabanan mendirikan Sanggar Pelangi 6 Januari 1976 dan membina siswa SMP/SMA yang gemar sastra dan drama. Dalam Festival Drama Modern 1976, Sanggar Pelangi mementaskan “Pelangi” karya N. Riantiarno, diawali musikalisasi puisi “Rakyat Adalah Sumber Ilmu” karya WS Rendra dan berhasil meraih predikat sutradara terbaik dan pementasan terbaik di Bali. Mendirikan Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)-Tabanan, Bali ( 2001) yang kemudian berubah nama menjadi Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI)-Tabanan, Bali. Dari 12 Sanggar yang berada di bawah naungan Majalah Sastra Horison Kakilangit, SSRI-Tabanan, Bali, mewakili pernah negara dalam acara Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII yang berlangsung dari tanggal 26 s/d 30 September 2004, di Gedung Cak Durasim, Genteng Kali, Surabaya. Samar Gantung juga aktif menjadi redaksi di Majalah Sastra Bali Anyar Canang Sari dan Satua, Gianyar.

Diundang ke berbagai pertemuan sastra nasional dan internasional. Mendapat penghargaan ITALART (Associazione Italiana Artistica Culturale), juga Badan Koordinasi Kesenian dan Kebudayaan Italia dari BKKNI (Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia)- untuk kegiatannya di bidang Kesenian dan Kebudayaan, 25 Maret 1983. Meraih piagam tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Abdul Rahman Wahid (Gusdur) tahun 2000. Majalah Sarad memberikan penghargaan Bahasa dan Sastra Bali CAKEPAN 2001. Penghargaan Sastra Rancage 2003 di Jakarta. Penghargaan Sastra Daerah Berprestasi di Tabanan, tahun 2005. Penghargaan Anugerah Sastra Tantular atas jasanya pada pembinaan dan pengembangan sastra modern di Bali yang diberikan Bali Bahasa Denpasar Kementerian Pendidikan Nasional pada tanggal 26 Oktober 2011, dll.