Jumat, 14 Maret 2014, Pukul 18.30 Wita – selesai

westaBoleh dikata, apresiasi terhadap karya sastra Bali modern terbilang masih terbatas, hanya sebagai kajian di perguruan tinggi untuk makalah, acuan skripsi atau tesis, serta bahan bacaan di sekolah-sekolah, belum mampu menarik minat publik secara luas.

Sejalan itu, Sandyakala Sastra #39 menghadirkan pembahasan perihal perkembangan kehidupan sastra Bali modern, pada tahun 2013 ini mencatat satu capaian yang mengembirakan, terbit 19 judul buku yang memperkaya khasanah susastra. Bagaimana sesungguhnya keberadaan sastra-sastra daerah di tanah air, termasuk sastra Bali modern? Dalam konteks itu pula, bagaimanakah upaya-upaya pemuliaan bahasa daerah dikaitkan dengan semangat nasionalisme yang sedini awal kemerdekaan digaung-kumandangkan ke segenap penjuru tanah air? Apakah upaya pemuliaan bahasa daerah bertolak belakang dengan semangat mengembangkan kebangsaan dan nasionalisme Indonesia, atau justru sebaliknya ?

Wayan Westa, seorang budayawan dan sastrawan modern Bali yang pada tahun 2014 ini memperoleh penghargaan Sastra Rancage atas karyanya Tutur Bali (2013), akan berbagi pandangan terkait pernyataan dan pertanyaan di atas. Di samping itu, akan diperbicangkan pula kecenderungan tematik dari sastra Bali modern yang terbit pada tahun 2013 ini, baik yang direfleksikan lewat novel, puisi maupun cerpen.

Lahir di Klungkung, 27 Januari 1965, I Wayan Westa menyelesaikan pendidikan di FKIP Universitas Dwijendra Denpasar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali. Tahun 1989-1993 mengajar SLUA Saraswati Klungkung, dosen di sejumlah perguruaan tinggi swasta. Menekuni dunia jurnalistik, tulisannya tersebar di sejumlah media; Mingguan Karya Bhakti, Harian Nusa, Bali Post, Kompas, dan Radar Bali. Tahun 2000-2009 bekerja sebagai Redaktur Majalah Gumi Bali SARAD. Tahun 2010-2012 dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah SABDA. Sebelumnya, dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, tahun 1999 ia bekerja di The Ford Foundation. Menyunting sejumlah buku diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Wulan Sedhuwuring Geni (Antologi Cerpen dan Puisi Daerah), Seribu Kunang-Kunang di Manhatan (Terjemahan dalam 13 Bahasa Daerah), dan Sunari (Novel Basa Bali karya Ketut Rida). Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Zaman, Penerbit Yayasan Darma Sastra, 2002. Menulis buku Tutur Bali, diterbitkan Yayasan Deva Charity, Utrecht, The Netherlands.