Workshop & Pentas
DRAMA TARI ARJA
Jumat, 18 Juli 2014, pukul 18.30 -21.00 Wita

arja

Drama tari Arja, berbentuk teater atau semacam opera, dialog tokohnya diiringi tembang mecapat sehingga terkesan klasik. Ada dugaan arja berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “reja”, mendapat awalan “a” sehingga menjadi “areja” dan akhirnya berubah menjadi “arja” yang berarti mengandung makna keindahan.

Selain keindahan busana yang ornamentik beserta aksesoris mahkota (gelungan) dipenuhi bunga kamboja, para penari juga didukung permainan irama tembang dengan berbahasa Bali atau Jawa Kuna serta musik (gamelan) Bali.

Pada awalnya Arja hanya ditarikan oleh satu orang tanpa diiringi gamelan disebut Arja doyong. Dalam perkembangannya Arja menjadi tari hiburan masyarakat di Bali saat ada ritual keagamaan di pura dengan menghadirkan penari perempuan berperan sebagai tokoh-tokoh sentral seperti condong, galuh, liku, mantra, sedangkan punakawan seperti punta dan wijil diperankan laki-laki. Dengan komposisi penari perempuan dan laki-laki tersebut, kemudian Arja menjadi seni pertunjukan yang sangat populer tahun 1960-an sampai tahun 1970-an, sebelum akhirnya kepopulerannya digantikan oleh hiruk-pikuk seni pertunjukkan Drama Gong, seni teater modern yang mengandalkan kemampuan dialog dan akting di panggung.

Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks, perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, musik, seni puisi, seni peran, seni pantomin, seni busana, seni rupa dan sebagainya. Semuanya menyatu padu seperti halnya seni suara yang bernada slendro atau pelog menjadi tembang yang merdu dan menarik, pemaparan cerita dilakukan melalui monolog dan dialog.

Arja sebagai salah satu bentuk teater rakyat Bali diperkirakan lahir abad ke – 18, sekitar tahun 1775 – 1825, pada pemerintahan I Dewa Agung Gede Sakti di Puri Klungkung, meramu unsur tari, drama dan nyanyian. Menurut Spies dan Goris, arja diduga cikalbakalnya berasal dari seni Gambuh, yakni teater atau opera Bali yang sepenuhnya mengandalkan irama vokal atau nyanyian penarinya.

Fenomena yang terjadi kini, pertunjukkan tari Arja kehilangan daya tarik sebagai wahana komunikasi berbagi rasa mengasah nurani di kalangan generasi muda. Mengapa generasi muda Bali kecanduan mengadopsi dan mengkonsumsi peradaban global sehingga warisan leluluhurnya sendiri –tari Arja— tidak mendapat tempat di hati?

Komunitas PAGARi (Pengkajian Agama, Budaya, dan Pariwisata) bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali menggelar Workshop Tari Arja dengan tema “Akselerasi Transformasi Nilai Religiusitas Dan Budaya Melalui Revitalisasi Seni Tari Arja”. Dengan workshop ini diharapkan dapat melahirkan inspirasi baru dalam upaya meningkatkan kreativitas seni budaya sarat religiusitas, menyiratkan daya kritis, responsif, kreatif dan inovatif seiring perubahan zaman.

Workshop dilaksanakan dengan model talkshow didahului pementasan satu babak Seni Tari Arja dengan lakon: Galuh – “Lika”- Liku, kisah klasik yang dikontekstualkan dengan kekinian, sekaligus menyiratkan kontradisi dan problematik yang dialami masyarakat Bali sejalan transformasi kultural yang dialaminya.

Sebagai pembicara adalah I Nyoman Arjana Adiputra, praktisi seni tari Bali yang sekaligus Candidat Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar, I Gde Rudia Adiputra, tokoh Pendidikan Hindu, mantan Rektor IHDN Denpasar yang sekaligus Kandidat Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana, dan I Nyoman Cerita SSt. MFA., koreografer dan pengajar ISI Denpasar.