Denpasar_30.08.

Sinopsis Film :

Kohlhaas oder die Verhältnismäßigkeit der Mittel (2012, 98 menit)
Sutradara : Aron Lehmann
Pemain : Robert Gwisdek, Jan Messutat, Thorsten Merten dll
Penghargaan : Sutradara terbaik & aktor terbaik untuk Jan Messutat di festival film München 2012

Sutradara muda, Lehmann (Robert Gwisdek), ingin mewujudkan ambisinya membuat epos sejarah dan baru saja melewati hari pertama pengambilan gambar film yang seharusnya akan menjadi adaptasi gemilang sebuah novel berjudul Michael Kohlhaas dari Heinrich von Kleist. Betapa malang, di ujung hari perdana itu filmnya terancam bubar. Pendanaan filmnya kembali ke nol sebab semua penanam modal mengundurkan diri dan bantuan keuangan lain dibatalkan. Lehmann terdampar di sebuah desa bernama Speckbrodi, bersama sekumpulan rekan kerja dan aktor yang sama bingungnya seperti dia. Mereka harus menerima kenyataan dan bekerja dengan apa yang ada di sana. Meski sedih dan bangkrut, Lehmann memutuskan untuk terus berjuang.

Dimulailah kisah Kohlhaas, seorang pedagang kuda (Jan Messutat), seorang tokoh yang seperti Lehmann berjuang untuk hal-hal yang diyakininya yaitu kebenaran dan keadilan. Sementara itu, kepala desa berperan menjadi penjahat, sapi menjadi kuda, pepohonan dan semak belukar menjadi musuh yang harus dihabisi. Sisanya, tergantung imajinasi pemain dan penonton.

Hasilnya adalah sebuah film dalam film, film mengenai film dengan diskusi-diskusi intensif antara sesama pekerja film soal makna membuat film. Sebuah film yang dibuat dengan mengandalkan kesungguhan seni peran para pemainnya dan fantasi penontonnya untuk mendapat predikat nyata dan dapat dipercaya. Film Aron Lehmann di satu sisi tetap menjadi film yang mengadaptasi karya Kleist, namun di lain sisi juga berhasil menjadi celah bagi penonton untuk melihat apa yang ada di balik pembuatan sebuah film.

=========================================

Was bleibt (2012, 88 menit)
Sutradara Hans-Christian Schmid
Pemain Corinna Harfouch, Lars Eidinger, Egon Merten, Eva Meckbach
Penghargaan Nominasi Berlin International Film Festival 2012, German Film Critic Award 2013, Film terbaik Schwerin Art of Film Festival 2012

was bleibtGünter (Ernst Stötzner) dan Gitte (Corinna Harfouch) tinggal di satu villa indah di tengah alam dan senang sekali ketika Marko (Lars Eidinger), anak lelaki mereka yang telah lama tinggal di Berlin, datang mengunjungi mereka bersama si Zowie, cucu tercinta. Anak-anaknya sudah mapan. Marko sedang ada di awal karirnya sebagai seorang penulis; adiknya Jakob (Sebastian Zimmler) membuka tempat praktek dokter gigi yang modern di daerah sekitar situ. Semuanya tampak lancar dan stabil. Sampai satu hari Gitte, yang selama ini berada di bawah pengobatan karena depresi, mengatakan bahwa dia merasa sudah sembuh dan tak perlu makan obat lagi. Anggota keluarga yang lain melihat hal ini sebagai satu sinyal bahaya. Keluarga ini pun pecah. Dengan sekumpulan aktor dan aktris kelas atas Jerman, sutradara Hans-Christian Schmid dalam karyanya Was Bleibt menyuguhkan tercerai berainya satu keluarga dalam beberapa hari saja, namun juga bagaimana mereka berusaha saling menemukan kembali.

Setelah film-film sukses seperti Requiem (2006) dan Sturm (2009), film Was Bleibt adalah kerja sama ketiga antara Schmid dan penulis skenario Bernd Lange. Film Was Bleibt ditampilkan perdana dalam kesempatan Festival Film Internasional Berlin Ke-62 pada 2012.

=================================

Oh Boy (2012, 88 menit)
Sutradara : Jan Ole Gerster
Pemain : Tom Schilling, Marc Hosemann, Marc Hosemann dll.
Penghargaan : Pemeran terbaik dari Bavarian Film Awards 2013 & European Film Awards 2013, Film award in Gold dari German Film Awards 2013 dll.

Oh boyNiko Fischer (Tom Schilling) menjalani kehidupannya tanpa tujuan. Kuliah hukum tidak menarik lagi untuknya. Dia berkeliling Berlin, mengamati para penghuni kota, luntang-lantung sendirian. Pada suatu hari segalanya berubah. Ayahnya tidak mau lagi mengirim uang bulanan, ada salah paham antara dia dan kekasihnya, seorang psikolog membuat analisis kejiwaan yang akan membatalkan ijin mengemudinya, seorang tetangga berkeluh kesah dan menangis di depannya, seorang kenalan masa kecil merayunya dan bahkan segelas kopi biasa pun tak bisa didapatkannya. Di malam harinya di sebuah kafe seorang bapak tua bercerita padanya mengenai masa kecilnya yang traumatis. Akhirnya bapak itu meninggal dan untuk pertama kali Niko merasa ikut bertanggung jawab pada suatu hal, meski pun hanya sedikit. Masa untuk menjalani kehidupan orang dewasa yang sebenarnya tiba.

Film Oh Boy menceritakan beberapa episode yang berlangsung selama 24 jam dalam kehidupan seorang pemuda. Satu hari yang di ujungnya si pemuda itu dan banyak hal dalam hidupnya tidak lagi sama seperti kemarin. Dalam estetika gambar film yang hitam-putih film Oh Boy bergerak antara melankoli dan humor serta menunjukkan bagaimana para tokohnya mencari tempat untuk diri mereka di dunia ini, sebuah tempat yang sebetulnya di dalamnya segala hal adalah mungkin. Musik jazz dari The Major Minors dan Cherilyn MacNeil mewarnai film dengan satu nuansa ironis tersendiri, yang di satu sisi mengimbangi karakter sendu film ini namun di lain sisi menegaskan keindahan kota Berlin yang tak bisa dirumuskan dalam batasan ruang dan waktu.